Sebuah Catatan Mengenai Kartini
Mari kita mengingat kembali
mengenai Kartini, seorang pahlawan bangsa yang harum namanya karena
gagasan-gagasannya yang begitu mengesankan. Kebanyakan diskursus perempuan pun
tidak lepas oleh nama Kartini. Memang dalam perjalanannya selalu ada perdebatan
yang juga tidak bisa kita hindarkan, tentang Kartini sebagai pahlawan atau
bukan, pejuang perempuan atau sekedar kaum bangsawan, sering dibandingkan
dengan tokoh-tokoh lainnya, kadang pula diremehkan karena berjuang hanya dengan
pena.
Kartini, seorang perempuan 21 April 1879.
Di usianya yang ke-12 ia telah
mengalami masa pingitan. Di usia itulah Kartini mengalami perhelatan diri yang
begitu besar. Lahir di tengah-tengah keluarga yang terbilang dengan pikiran
maju, tetapi tetap mempertahankan tradisi yang begitu kaku. Kartini tak
memiliki hak bersekolah, ia kehilangan kesempatan berpetualang di usia muda. Nyatanya
ia harus menikah dengan bangsawan, di usia yang cukup belia.
Sejak saat itulah, Kartini mulai
gemar menulis. Layaknya seorang wartawan yang melakukan reportase, Kartini
menggambarkan kesenjangan yang ia rasakan. Di balik kungkungan tembok yang
menyerupai penjara, Kartini berusaha mendobrak tradisi lama, menentang
poligami, posisi perempuan dalam keluarga, budaya patriartki yang tentunya
menjadi bayang-bayang musuh besar yang
dilawannya. Ia sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan yang amat bengis
dan kuat, yang didukung adat-istiadat, bahkan juga dibenarkan oleh
ajaran-ajaran agama yang ada pada masa itu.
Buku Habis Gelap Terbitlah Terang : Boeah Pikiran (1922)
menjadi dasar kebanyakan dari kita untuk memahami perhelatan pemikiran Kartini,
sebuah buku yang berisi surat-surat Kartini yang lengkap dengan
curhatan-curhatan yang ia tujukan pada sahabat-sahabat di Belanda. Disitulah
garis perjuangan Kartini ...
Berkat buah pemikiran dan jasa-jasa Kartini. Setelah Kartini mangkat,
banyak hal yang dapat kita rasakan. Perempuan saat ini telah dapat menampati
pos strategis di berbagai lini kehidupan. Posisi yang sekarang ini ditempati
oleh perempuan, sudah tidak ada beda dengan tanggung jawab yang diemban lelaki.
Saya rasa perempuan dewasa ini telah mengalami banyak kenikmatan –
tetapi jangan pernah lupakan kondisi sosial kita bahwa perempuan masih banyak
yg sengsara.
Perempuan harus hadir
dan mampu menyelesaikan persoalan bangsa.
“Mari, wahai perempuan,
gadis-gadis muda, bangkitlah, mari bergandeng tangan dan bekerja bersama untuk
mengubah keadaan yang tak tertahankan ini.” (Surat Kartini untuk Stella, 23
Agustus 1900). . . Hingga saat ini, perjuangan Kartini bisa terlacak melalui surat-surat
yang ia tinggalkan. Surat-surat itu menjadi dokumen tertulis yang bisa
menggambarkan pemikiran seorang Raden Ajeng Kartini. Kartini meninggal pada
usia 25 tahun, namun meski hidupnya singkat, Kartini meninggalkan
gagasan progresif yang tak kunjung padam.
(Disampaikan pada Orasi Kartini Tahun 2017)
Komentar
Posting Komentar